Friday, 19 December 2014

Kendang Kuningan Tembus Pasar Internasional

Image from WartaFokus
Kuningan - Salah satu bengkel sekaligus pembuat Kendang milik Didi Sahruwijaya, warga Lingkungan Buana RT 18 RW 3 Kelurahan Cijoho Kuningan pantas diacungi jempol. Pasalnya, kendang yang berhasil diproduksi ini bisa menembus pasar internasional, salah satunya Negara Belgia.

“Kendang buatan saya pernah dikirim ke Negara Belgia, Lampung, Kapolda Jogya, Kalimantan dan Papua," kata Didi ketika ditemui KaTer dikediamannya yang juga sebagai sanggar pembuatan kendang dan alat gamelan jaipongan, Kamis (26/4/2014).

Profesi yang digelutinya selama ini kata Didi, sudah berjalan selama 23 tahun. Pembuatan maupun servis kendang diterima dari para pelanggan. Di Kuningan pengrajin kendang hanya ada di dua kecamatan yaitu Sindang Agung dan Cijoho. Sebelumnya, Ia kerap manggung menjadi tukang kendang. Selama berprofesi menjadi tukang kendang, kerap kali kendang yang setelah selesai dipergunakan selalu rusak. Namun, ketika diperbaiki oleh orang lain, hasilnya tidak memuaskan karena suara menjadi tidak nyaring.

“Saya kadang kecewa, karena setiap diperbaiki orang lain hasilnya tidak memuaskan. Padahal biaya untuk servis juga tidak murah. Makanya, saya terus belajar hingga bisa membuat atau nyervis kendang,” katanya di sela-sela kesibukan mengecat kendang yang terbuat dari kayu nangka.

Kendang yang diproduksinya sambung Didi, menggunakan kayu nangka, sawo dan kormis. Karena, jenis kayu-kayu tersebut kuat, tahan retak, dan tidak terlalu berat. Namun sayangnya, kayu-kayu jenis itu saat ini mulai langka sebagai bahan baku pembuatan kendang.

“Setiap memesan kayu jenis itu kepada tukang kayu, bisa berbulan-bulan. Sedangkan, untuk harga satu set kendang dari pohon nangka senilai Rp 2,8 Juta, kalau jenis sawo mencapai Rp 3,5 Juta dan jenis kormis harganya mencapai Rp 4,5 Juta. Setiap nilai itu ditentukan dengan kualitas kendang yang suaranya lebih bagus,” ungkapnya.

Lebih jauh Didi mengungkapkan, persaingan bisnis kendang saat ini semakin kompetitif. Sebagai contoh, kendang asal pabrikan wilayah Bandung yang memasang harga lebih murah. Hal itu dikarenakan terbuat dari kayu lame dan jenjing.

“Proses pembuatan satu set kendang membutuhkan waktu 15 hari hingga tiga bulan. Selain itu, faktor cuaca juga berpengaruh untuk mengeringkan bongkahan kayu bahan kendang yang tidak dijemur langsung dibawah terik matahari,” tukasnya.(AND - Kuningan Terkini)


EmoticonEmoticon